October 23, 2020

Covid-19 Berlanjut, Krisis Pengangguran Semakin Meresahkan

2 min read

Jutaan orang telah kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19, diprediksi akan bertambah selama corona belum ditemukan vaksin.

Ginkofinancial.com – Dunia sedang menghadapi krisis pengangguran jangka panjang. Pasalnya, jutaan orang yang kehilangan pekerjaan di awal pandemi Covid-19 tetap menganggur enam bulan kemudian dan kehilangan pekerjaan menjadi semakin permanen.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah pun menyatakan bahwa pandemi Covid-19 ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap kenaikan angka pengangguran di Indonesia. Secara nasional, total pengangguran di Indonesia sendiri sudah mencapai 10,3 juta bila ditambah dengan tingkat pengangguran terbuka per September 2020.

Departemen Tenaga Kerja di Amerika Serikat (2/10) mengatakan bahwa 2,4 juta orang telah kehilangan pekerjaan selama 6 bulan lebih. Yang berarti bahwa ambang batas ini telah menentukan pengangguran jangka panjang.

Sedangkan bila melihat dari stetoskop dunia, angka pengangguran sudah mencapai lebih dari 30 juta per Mei 2020 ini. Selama dua bulan ke depan, tingkat pengangguran diprediksi akan naik lebih tinggi.

Meningkatnya pengangguran jangka panjang dan hilangnya pekerjaan permanen menandakan periode kerusakan ekonomi. Tak ayal, kesulitan keuangan yang berkepanjangan bukan hanya untuk negara Indonesia, tapi seluruh dunia.

Perusahaan yang terpincang-pincang di bawah kapasitas sejauh ini dalam krisis mungkin semakin tidak memungkinkan menarik kembali karyawan yang telah mereka PHK. Banyak kejadian menunjukkan bahwa semakin lama orang tidak bekerja, semakin sulit bagi mereka untuk bekerja kembali.

Bisnis Selama Pandemi Covid-19

Bisnis interaksi tinggi seperti restoran, bioskop, casino, gym, reflexology, spa, konferensi, kapal pesiar, dan turisme sedang berjuang untuk dibuka kembali sepenuhnya. Dikarenakan virus Covid-19 yang terus menyebar, membuat banyak pekerja yang bekerja di sektor-sektor tersebut menjadi kehilangan pekerjaannya.

Perusahaan bonafit seperti Disney pun mengumumkan pada akhir September bahwa mereka akan memberhentikan 28.000 karyawan mereka di Amerika Serikat karena taman hiburannya tidak bisa dibuka. Pemberitahuan PHK yang diajukan ke otoritas negara menunjukkan bahwa perusahaan perhotelan membuat pengurangan staff jangka panjang.

Akibatnya, rebound lapangan kerja yang awalnya cepat mungkin mulai terasa lebih seperti proses penyembuhan yang berlangsung selama satu dekade penuh setelah resesi hebat.

Kepala ekonom Ian Shepherdson mengatakan bahwa: “Resikonya adalah bahwa Anda berkahir dengan orang-orang secara permanen terlepas dari pasar tenaga kerja. Dan Anda tidaka kan pernah mendapatkan kembali. Atau bahkan Anda membutuhkan waktu 10 tahun untuk memasukkan para pekerja yang Anda PHK kembali. Konsekuensi ekonominya adalah Anda menekan pertumbuhan di masa depan.”

Pemulihan lambat dari resesi yang kita saksikan beberapa tahun lalu memperjelas bahwa pekerjaan yang diperpanjang bisa menghantui para pekerja. Ini mengunci mereka dari peluang kerja yang lebih baik lagi.

Apakah ini berlaku dalam penurunan yang disebabkan pandemi masih belum jelas. Tapi, dampak ekonomi dari sejumlah besar pekerja yang dipecat niscaya akan membebani potensi ekonomi dunia dan mengganggu kehidupan ke depannya.

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.